Rabu, 04 November 2015

INI ASAP ATAU AZAB ???

INI  ASAP  ATAU  AZAB ???
INI  ASAP  ATAU  AZAB ???



Pesan dalam surat Ibu dan Ayah dari kampung, untuk anaknya yang sedang menuntut ilmu di rantau dengan ucapan,” Semoga ananda berguna bagi agama, bangsa, dan negara.” Begitulah orang tua kita zaman dahulu menanamkan suatu harapan, ta’at beribadah hanya kepada Allah SWT, Bertanggung jawab penuh kepada bangsa dan negara, dan itulah yang dinamakan jadi “orang”. 

Orang tua zaman sekarang, jelas dan pasti bahwa dahulunya mereka jadi anak. Kalau kita bicara tentang anak-anak sekarang, sebagai orang tua, kita harus merenung, dimana posisi kita dahulunya? Jangan sampai anak-anak kita jadi kambing hitam dari segala keburukan. Setua apapun kita sekarang, jelas kita ini anak dari orang tua kita. Sekaligus anak dari Ibu Pertiwi, yaitu anak bangsa yang bernama Indonesia. 
 
“Alam takambang jadi guru”, Ada empat tipe anak; yang pertama “Anak dunia” ; yang kedua “Anak Fitnah” ; yang ketiga “ Anak Musuh” ; yang keempat “Anak yang menyenangkan hati”. “Anak dunia” adalah anak yang secara dunia merupakan anak-anak yang sukses. Ada yang berkarir di luar negeri seperti di London, Jepang, dan negara lainnya. Anak dunia secara materi tidak diragukan sama sekali. Tetapi rasa sayang dan hormatnya kepada orang tuanya sangat tipis, bahkan ada yang mengantarkan orang tuanya ke Panti Jompo. Inilah generasi yang paling berbahaya, orientasi hidupnya hanya materi, egois, dan individualistik. Jika dipikir-pikir, anak ini kepada orang tua saja tidak berbakti, apalagi kepada bangsa dan negara. 

Tipe anak kedua adalah “Anak Fitnah”. Dimana tipe anak ini memiliki tingkah laku yang melanggar norma-norma kehidupan, baik norma agama,kesusilaan,hukum, dan norma kesopanan. Anak ini biasanya meresahkan masyarakat, pergaulan bebas, berjudi, minum-minuman keras, narkoba, mencuri, dan merampok, sehingga menjadi aib besar bagi keluarga dan bangsanya. 

Selanjutnya yang ketiga adalah tipe “Anak Musuh”. Dimana tipe anak ini, biasanya kepada orang tuanya durhaka, suka membangkang, dan tidak pernah mau mendengarkan nasehat orang tua. Kepada orang tuanya saja dia sudah durhaka, apalagi kepada bangsa dan negara. Di Minang, tipe anak ini dikenal dengan anak; Malin Kundang. Anak ini bersifat pengkhianat dan selalu merusak dari dalam.

 Berikutnya yang keempat adalah “Anak yang menyejukkan hati”, adalah anak yang taat beribadah, hormat serta penuh kasih sayang kepada orang tuanya. Senang berbuat kebaikan, pemberani dalam menegakkan kebenaran, hanya takut kepada Allah, Selalu menjaga harga diri, tidak pedendam, suka minta maaf, dan senang memaafkan orang lain, gesit menuntut ilmu, suka kerja keras, pintar menghargai orang lain, pergaulan menyenangkan dan mendunia.

Sebagai orang tua sekarang, kita harus menyadari posisi kita saat itu dimana. Bisa dianalisa bahwa apa yang terjadi saat ini, merupakan refleksi dari perbuatan kita di masa lalu. Bukan berarti kita mengesampingkan semua kebaikan yang telah dilakukan oleh orang tua kita dahulu. Kita sekarang membicarakan kerusakan yang telah diperbuat oleh orang tua kita sekarang dan dahulu. Dan mungkin saja itu yang menimbulkan kerusakan bencana. Ini ASAP atau AZAB?

 Dulu, saat terjadinya gempa besar di Sumatera Barat, khususnya di kota Padang, sebagian bangunan hancur dan diiringi dengan isu tsunami. Masyarakat lari kalang kabut ke dataran tinggi, bahkan ada yang lari ke kota lain, jauh dari tepi pantai, karena takut mati.  Padahal mati itu sendiri tidak perlu ditakuti, sebab kita sudah latihan mati setiap hari, karena tidur adalah sejenis dari kematian.

Ini ASAP atau AZAB??
            Walaupun ini sebuah pertanyaan, kita bisa menjawab sendiri. Ini jelas Asap. Tetapi telah berubah menjadi Azab. Tentu saja akan timbul pertanyaan selanjut, kenapa kita diazab? Menurut hemat penulis pribadi, bangsa ini sudah salah urus ;karena bangsa ini dipimpin oleh orang-orang yang tidak bisa mengurus dan tidak paham betul bagaimana cara mengurus. Demokrasi kita hampir sama dengan sistem demokrasi jahiliyah, kita sudah mengangkat pemimpin dan menyerahkan jabatan kepada orang yang bukan ahlinya. Kata Nabi Muhammad SAW, tunggulah kehancuran. Inilah azab.

Ini ASAP atau AZAB??
            Apabila kita bersama telah menyerahkan kepemimpinan kepada yang bukan ahlinya, pemimpin ini bisa saja berbuat anarkis, karena pemimpin itu bertindak berdasarkan kepentingan kecil. Bukan berdasarkan kepentingan bangsa ini, yang rakyatnya lebih kurang 250 juta lebih. Terbakarnya hutan di negara kita ini akibat dari pemimpin yang anarkis terhadap bumi,Menyerahkan hutan ini untuk kepentingan kapitalis dan jauh dari kepentingan masyarakat. Kapitalis tidak peduli dengan lingkungan. Mereka hanya memikirkan keuntungan, sikap inilah yang menjadi awal dari bencana Azab.

Ini ASAP atau AZAB??
            Kalau kita bicara tentang anarkis, kadang-kadang kita salah persepsi. Hanya sampai kepada pendemo yang melakukan pengrusakan karena aspirasinya tidak merasa diperhatikan atau didengarkan, Mahasiswa bentrok dengan polisi, serta mahasiswa kecewa dengan pelaksanaan kepemimpinan pemerintah yang membuat rakyat jadi menderita. Dan polisi mengamankan demi menjaga kewibawaan negara. Bentrok polisi dengan mahasiswa ini tidaklah begitu membahayakan, belum bisa dikatakan anarkis.

Ini ASAP atau AZAB??
            Sebelum kita terlalu jauh membicarakan masalah anarkis yang mengundang azab Allah terhadap negara ini. Marilah kita bagi anarkis itu menjadi 3 bagian : anarkis fisik, anarkis visual, dan anarkis verbal. Ketiga anarkis itu sebenarnya tidak boleh ditoleransi, lebih – lebih anarkis verbal (kekerasan dengan kata – kata). Biasanya dilakukan oleh politisi yang memakai paham Machiavelli, yang menghalalkan segala cara demi tujuannya tercapai. Ini menimbulkan permusuhan dan merusak, juga mendatangkan azab.

Ini ASAP atau AZAB??
            Anarkis secara visual (gambaran). Biasanya kita lihat dalam kehidupan sehari –hari, bapak – bapak yang memakai baju koko dan ibu – ibu atau anak gadis kita yang berjilbab, biasanya mereka itu orang baik – baik. Tetapi yang dipertontonkan kepada masyarakat, pembunuh, pencuri dan pemerkosa, apabila diadili di pengadilan diberi pakaian bagaikan orang sholeh. Bahkan penari telanjang pun diberi pakaian yang berjilbab. Ini jelas suatu anarkis secara visual terhadap identitas umat Islam. Ini juga mengundang azab dari Yang Maha Kuasa.

Ini ASAP atau AZAB??
            Bangsa ini harus mengkoreksi diri, kita bangsa yang sombong atau bangsa yang bodoh??? Sebab sombong dan bodoh keduanya sama – sama membawa kita ke arah kehancuran atau azab. Kita sombong karena kita dianugerahi oleh Allah negara yang berdiri di tanah yang subur, dan sumber daya alam yang berlimpah. Tetapi kita bodoh dalam hal mengelolanya. Dengan kedok investor dan investasi, tanah kita bahkan pasar kita dikelola oleh asing (kapitalis). Terbakarnya hutan, dan asapnya sudah berubah menjadi azab, yang membuat kita kalang kabut, bahkan korban sudah mulai berjatuhan. Rakyat banyak ini mau exodus kemana? Ini jelas azab.!!!

Ini ASAP atau AZAB??
            Tingkat kebodohan kita bukan terjadi di kalangan bawah atau rakyat jelata. Tetapi ironisnya terjadi di kalangan atas, eksekutif maupun legislatif. Inilah yang mengundang bala atau azab, yang menyengsarakan rakyat Indonesia. Sebetulnya petugas tidak perlu susah – susah mencari tersangka pembakaran hutan. Itu jelas wewenang eksekutif yang mengeluarkan izin tanpa aturan yang jelas. 

 Mari kita renungkan....Kenapa kebodohan itu terjadi di kalangan atas??? Eksekutif atau legislatif. Menurut hemat penulis kita berada dalam alam sistem demokrasi yang tidak sehat. Kalau seandainya kita sama – sama yakin bahwa demokrasi kita tidak sehat, sebelum penyakit ini berlanjut dan semakin parah serta akan menghancurkan negara ini, semua komponen masyarakat dan mahasiswa harus sepakat untuk merubah sistem demokrasi kita. 

Demokrasi yang melahirkan pemimpin yang cerdas, dan mencerdaskan anak bangsa ini. Bukan demokrasi yang melahirkan anak – anak dunia yang tidak mencintai ibu pertiwi, dan demokrasi yang melahirkan anak fitnah yang suka berhutang sebab banyak hutang membuat kita terhina. Dan bukan demokrasi yang melahirkan anak musuh yang bisa saja menghancurkan ideologi negara dan merusak persatuan. Demokrasi kita harus melahirkan anak – anak yang menyenangkan hati dan yang bersyukur kepada Allah. Inilah yang kita harapkan kedepan untuk memimpin negara ini.
Firman Allah :

“ Dan ( ingatlah ) ketika mengumumkan Tuhan kalian, sesungguhnya jika kalian bersyukur niscaya Aku benar – benar akan menambah ( nikmat ) bagi kalian. Dan sesungguhnya jika kalian kafir atau ingkar, sungguh siksa-Ku sangat berat.”
( Q.S Ibrahim 14 : 7 )


Dari berapa kali pertanyaan “INI ASAP ATAU AZAB?”mari kita merenung, dan sama – sama bertobat kepada Allah dan berdo’a semoga asap dan azab ini segera hilang dari bumi Indonesia ini, Amin Ya Rabbal Alamin. Sebab do’a kunci dari segala permintaan, penawar dari segala derita, jalan keluar dari segala kesulitan.


                                                                                                                        Penulis,

                                                                                                                      Asril Manan


Tidak ada komentar :

Posting Komentar