![]() |
| INI ASAP ATAU AZAB ??? |
Pesan dalam surat Ibu dan Ayah dari kampung, untuk anaknya yang sedang menuntut ilmu di rantau dengan ucapan,” Semoga ananda berguna bagi agama, bangsa, dan negara.” Begitulah orang tua kita zaman dahulu menanamkan suatu harapan, ta’at beribadah hanya kepada Allah SWT, Bertanggung jawab penuh kepada bangsa dan negara, dan itulah yang dinamakan jadi “orang”.
“Alam
takambang jadi guru”, Ada empat tipe anak; yang pertama “Anak dunia” ; yang kedua “Anak
Fitnah” ; yang ketiga “ Anak Musuh” ;
yang keempat “Anak yang menyenangkan
hati”. “Anak dunia” adalah anak
yang secara dunia merupakan anak-anak yang sukses. Ada yang berkarir di luar
negeri seperti di London, Jepang, dan negara lainnya. Anak dunia secara materi
tidak diragukan sama sekali. Tetapi rasa sayang dan hormatnya kepada orang
tuanya sangat tipis, bahkan ada yang mengantarkan orang tuanya ke Panti Jompo.
Inilah generasi yang paling berbahaya, orientasi hidupnya hanya materi, egois,
dan individualistik. Jika dipikir-pikir, anak ini kepada orang tua saja tidak
berbakti, apalagi kepada bangsa dan negara.
Tipe
anak kedua adalah “Anak Fitnah”. Dimana
tipe anak ini memiliki tingkah laku yang melanggar norma-norma kehidupan, baik
norma agama,kesusilaan,hukum, dan norma kesopanan. Anak ini biasanya meresahkan
masyarakat, pergaulan bebas, berjudi, minum-minuman keras, narkoba, mencuri,
dan merampok, sehingga menjadi aib besar bagi keluarga dan bangsanya.
Selanjutnya
yang ketiga adalah tipe “Anak Musuh”.
Dimana tipe anak ini, biasanya kepada orang tuanya durhaka, suka membangkang,
dan tidak pernah mau mendengarkan nasehat orang tua. Kepada orang tuanya saja
dia sudah durhaka, apalagi kepada bangsa dan negara. Di Minang, tipe anak ini
dikenal dengan anak; Malin Kundang.
Anak ini bersifat pengkhianat dan selalu merusak dari dalam.
Berikutnya
yang keempat adalah “Anak yang
menyejukkan hati”, adalah anak yang taat beribadah, hormat serta penuh
kasih sayang kepada orang tuanya. Senang berbuat kebaikan, pemberani dalam
menegakkan kebenaran, hanya takut kepada Allah, Selalu menjaga harga diri,
tidak pedendam, suka minta maaf, dan senang memaafkan orang lain, gesit
menuntut ilmu, suka kerja keras, pintar menghargai orang lain, pergaulan
menyenangkan dan mendunia.
Sebagai
orang tua sekarang, kita harus menyadari posisi kita saat itu dimana. Bisa
dianalisa bahwa apa yang terjadi saat ini, merupakan refleksi dari perbuatan
kita di masa lalu. Bukan berarti kita mengesampingkan semua kebaikan yang telah
dilakukan oleh orang tua kita dahulu. Kita sekarang membicarakan kerusakan yang
telah diperbuat oleh orang tua kita sekarang dan dahulu. Dan mungkin saja itu
yang menimbulkan kerusakan bencana. Ini
ASAP atau AZAB?
Dulu, saat terjadinya gempa
besar di Sumatera Barat, khususnya di kota Padang, sebagian bangunan hancur dan
diiringi dengan isu tsunami. Masyarakat lari kalang kabut ke dataran tinggi, bahkan
ada yang lari ke kota lain, jauh dari tepi pantai, karena takut mati. Padahal mati itu sendiri tidak perlu
ditakuti, sebab kita sudah latihan mati setiap hari, karena tidur adalah
sejenis dari kematian.
Ini ASAP
atau AZAB??
Walaupun
ini sebuah pertanyaan, kita bisa menjawab sendiri. Ini jelas Asap. Tetapi telah
berubah menjadi Azab. Tentu saja akan timbul pertanyaan selanjut, kenapa kita
diazab? Menurut hemat penulis pribadi, bangsa ini sudah salah urus ;karena
bangsa ini dipimpin oleh orang-orang yang tidak bisa mengurus dan tidak paham
betul bagaimana cara mengurus. Demokrasi kita hampir sama dengan sistem
demokrasi jahiliyah, kita sudah mengangkat pemimpin dan menyerahkan jabatan
kepada orang yang bukan ahlinya. Kata Nabi Muhammad SAW, tunggulah kehancuran.
Inilah azab.
Ini ASAP
atau AZAB??
Apabila
kita bersama telah menyerahkan kepemimpinan kepada yang bukan ahlinya, pemimpin
ini bisa saja berbuat anarkis, karena pemimpin itu bertindak berdasarkan
kepentingan kecil. Bukan berdasarkan kepentingan bangsa ini, yang rakyatnya
lebih kurang 250 juta lebih. Terbakarnya hutan di negara kita ini akibat dari
pemimpin yang anarkis terhadap bumi,Menyerahkan hutan ini untuk kepentingan
kapitalis dan jauh dari kepentingan masyarakat. Kapitalis tidak peduli dengan
lingkungan. Mereka hanya memikirkan keuntungan, sikap inilah yang menjadi awal
dari bencana Azab.
Ini ASAP
atau AZAB??
Kalau
kita bicara tentang anarkis, kadang-kadang kita salah persepsi. Hanya sampai
kepada pendemo yang melakukan pengrusakan karena aspirasinya tidak merasa
diperhatikan atau didengarkan, Mahasiswa bentrok dengan polisi, serta mahasiswa
kecewa dengan pelaksanaan kepemimpinan pemerintah yang membuat rakyat jadi
menderita. Dan polisi mengamankan demi menjaga kewibawaan negara. Bentrok polisi
dengan mahasiswa ini tidaklah begitu membahayakan, belum bisa dikatakan
anarkis.
Ini ASAP
atau AZAB??
Sebelum
kita terlalu jauh membicarakan masalah anarkis yang mengundang azab Allah
terhadap negara ini. Marilah kita bagi anarkis itu menjadi 3 bagian : anarkis
fisik, anarkis visual, dan anarkis verbal. Ketiga anarkis itu
sebenarnya tidak boleh ditoleransi, lebih – lebih anarkis verbal (kekerasan dengan
kata – kata). Biasanya dilakukan oleh politisi yang memakai paham Machiavelli,
yang menghalalkan segala cara demi tujuannya tercapai. Ini menimbulkan
permusuhan dan merusak, juga mendatangkan azab.
Ini ASAP
atau AZAB??
Anarkis
secara visual (gambaran). Biasanya kita lihat dalam kehidupan sehari
–hari, bapak – bapak yang memakai baju koko dan ibu – ibu atau anak gadis kita
yang berjilbab, biasanya mereka itu orang baik – baik. Tetapi yang
dipertontonkan kepada masyarakat, pembunuh, pencuri dan pemerkosa, apabila
diadili di pengadilan diberi pakaian bagaikan orang sholeh. Bahkan penari
telanjang pun diberi pakaian yang berjilbab. Ini jelas suatu anarkis secara visual
terhadap identitas umat Islam. Ini juga mengundang azab dari Yang Maha Kuasa.
Ini ASAP
atau AZAB??
Bangsa
ini harus mengkoreksi diri, kita bangsa yang sombong atau bangsa yang bodoh???
Sebab sombong dan bodoh keduanya sama – sama membawa kita ke arah kehancuran
atau azab. Kita sombong karena kita dianugerahi oleh Allah negara yang berdiri
di tanah yang subur, dan sumber daya alam yang berlimpah. Tetapi kita bodoh
dalam hal mengelolanya. Dengan kedok investor dan investasi, tanah kita bahkan
pasar kita dikelola oleh asing (kapitalis). Terbakarnya hutan, dan asapnya
sudah berubah menjadi azab, yang membuat kita kalang kabut, bahkan korban sudah
mulai berjatuhan. Rakyat banyak ini mau exodus kemana? Ini jelas azab.!!!
Ini ASAP
atau AZAB??
Tingkat
kebodohan kita bukan terjadi di kalangan bawah atau rakyat jelata. Tetapi
ironisnya terjadi di kalangan atas, eksekutif maupun legislatif. Inilah yang
mengundang bala atau azab, yang menyengsarakan rakyat Indonesia. Sebetulnya
petugas tidak perlu susah – susah mencari tersangka pembakaran hutan. Itu jelas
wewenang eksekutif yang mengeluarkan izin tanpa aturan yang jelas.
Mari
kita renungkan....Kenapa kebodohan itu terjadi di kalangan atas??? Eksekutif atau
legislatif. Menurut hemat penulis kita berada dalam alam sistem demokrasi yang tidak
sehat. Kalau seandainya kita sama – sama yakin bahwa
demokrasi kita tidak sehat, sebelum penyakit ini berlanjut dan semakin parah
serta akan menghancurkan negara ini, semua komponen masyarakat dan mahasiswa
harus sepakat untuk merubah sistem demokrasi kita.
Demokrasi
yang melahirkan pemimpin yang cerdas, dan mencerdaskan anak bangsa ini. Bukan
demokrasi yang melahirkan anak – anak dunia yang tidak mencintai ibu pertiwi,
dan demokrasi yang melahirkan anak fitnah yang suka berhutang sebab banyak
hutang membuat kita terhina. Dan bukan demokrasi yang melahirkan anak musuh
yang bisa saja menghancurkan ideologi negara dan merusak persatuan. Demokrasi
kita harus melahirkan anak – anak yang menyenangkan hati dan yang bersyukur
kepada Allah. Inilah yang kita harapkan kedepan untuk memimpin negara ini.
Firman Allah :
“ Dan (
ingatlah ) ketika mengumumkan Tuhan kalian, sesungguhnya jika kalian bersyukur
niscaya Aku benar – benar akan menambah ( nikmat ) bagi kalian. Dan
sesungguhnya jika kalian kafir atau ingkar, sungguh siksa-Ku sangat berat.”
( Q.S Ibrahim
14 : 7 )
Dari berapa
kali pertanyaan “INI ASAP ATAU AZAB?”mari
kita merenung, dan sama – sama bertobat kepada Allah dan berdo’a semoga asap
dan azab ini segera hilang dari bumi Indonesia ini, Amin Ya Rabbal Alamin.
Sebab do’a kunci dari segala permintaan, penawar dari segala derita, jalan
keluar dari segala kesulitan.
Penulis,
Asril
Manan

Tidak ada komentar :
Posting Komentar